My
Mom
Author by DeanEldora,dont copy wihout full credits.i believe you....
“hoaaahhh…”
Naya terbangun
dari tidurnya dan menguap lebar.ia lalu melakukan olahraga ringan sebelum
akhirnya turun dari tempat tidurnya.ia berjalan kearah kamar mandi seraya
melihat kesebuah jam yang tergantung didindingnya.
“Wah,hampir
telat!!!”
pekik naya sambil berlari ke kamar mandi.
Pagi itu menjadi pagi yang menegangkan
bagi Naya karena hari itu ia akan kesekolah untuk melihat pengumuman kelulusan
SMA nya.
“aaaahhh…
ibuuu…”
Naya berlari ke kamar ibunya.
“wah kenapa??” tanya ibu Naya
yang sedang menyetrika baju dengan bahasa isyarat.ibu Naya seorang tunanetra
sehingga ia berbicara dengan orang lain menggunakan bahasa isyarat.
“ibuuuu… kenapa baju ku
baru disetrika?! Aduh,ibu juga harus siap – siap.ibu harus kesekolah hari ini
untuk kelulusan ku.” Omel Naya seraya mengenakan baju seragamnya.
“astaga ibu
lupa..”
ibu Naya membuat isyarat menepuk keningnya dan segera bersiap – siap.
“cepat ibu,atau
kita akan ketinggalan bis..” teriak Naya yang sudah berlari
meninggalkan ibunya yang sedang mengunsi pintu.
Jantung Naya berdebar ketika menerobos
kerumunan teman – temannya untuk melihat pengumuman kelulusan yang ditempalkan
pihak sekolah di dinding mading.dengan menggenggam tangan ibu nya Naya melihat
satu persatu nama di kertas yang menuliskan nama – nama siswa yang
lulus.sementara sesekali mata Naya juga melihat kearah kertas yang menuliskan
nama siswa yang tidak lulus,berharap namanya tidak ada disana.
“yeeeeeeeeeeeeee………”
Naya bersorak dan memeluk ibunya yang
juga sangat senang.meski nama Naya berada diurutan ke 329 dari 334 siswa,ibu
Naya sangat bahagia melihat nama Naya berada diantara siswa yang lulus.
Sebagai anak tunggal,Naya adalah anak
yang sangat manja.ayah Naya yang sudah meninggal sejak Naya berumur 10 tahun
membuat ibu Naya harus bekerja sangat keras untuk mengabulkan permintaan
Naya.ia pun sangat senang akhirnya Naya lulus dari sekolahnya yang sangat Mahal
itu meski dengan nilai yang pas – pasan.
Ibu Naya tersenyum kearah Naya yang
berjalan sambil meloncat – loncat kegirangan.baginya keceriaan Naya adalah satu
– satunya alasan nya bertahan hidup selama ini.jika tidak ada Naya entah dari
mana ia akan merasakan bagaimana rasanya kebahagiaan itu.
“waaahhh…” Naya menempelkan
wajahnya kesebuah kaca toko yang berada dipinggir jalan ketika mereka dalam
perjalanan pulang kerumah.
Ibu
Naya menghampirinya dan memegang pundak Naya.
“ibu,aku mau
yang iniii…”
tunjuk Naya pada sebuah tas ransel berwarna ungu yang terpajang didalam toko.
Ibu
Naya melihat harga tas yang tergantung di tas tersebut,ia lalu menggeleng lemah
kearah Naya.
“ibu tidak punya
uang sebanyak itu..”
ibu Naya membuat isyarat dengan tangannya.
“tapi
buu…” Naya merengek manja
Ibu Naya menyeret Naya menjauh dari
toko itu dan membawa pulang.sepanjang jalan Naya cemberut saja dan tidak
mengeluarkan sepatah kata pun.ibu Naya tampak merasa sangat bersalah.
Sesampainya dirumah Naya langsung
masuk kekamar dan tidak berbicara sedikit pun pada ibunya.
“Naya,ibu
pergi kerja dulu ya..” ibu Naya membuat isyarat kepada Naya yang sedang tiduran
di tempat tidurnya.
Naya hanya mengangguk cepat tanpa
melihat kearah ibunya.
Ibu
Naya tersenyum dan setelah mengacak rambut Naya ia pun pergi.
Ibu Naya bekerja sebagai pencuci
piring disebuah restoran jepang didekat rumahnya.tidak bisa berbicara membuatnya
kesulitan mencari pekerjaan sehingga hanya sebagai pencuci piring sajalah yang
bisa ia dapatkan.
Hari ini restoran terlihat sangat ramai
sehingga ibu Naya harus bekerja sangat cepat atau akan ada pelanggan yang tidak
mendapatkan piring.beberapa tetes bulir keringat menetes dari sela rambutnya
yang kini kian memutih.ia menyeka keringatnya dengan tangan yang dipenuhi oleh
sabun,ia bekerja sangat keras.ia ingin sekali membelikan Naya tas yang waktu
itu dilihat Naya.
Malam mulai menjelang dan restoran pun
berangsur tutup.ibu Naya berjalan perlahan kearah rumahnya sambil memijat
bahunya.ia berhenti berjalan ketika ia melihat kesebuah toko dimana Tas yang
Naya inginkan masih terpajang disana.
“ibu berjanji
pasti ibu akan membelikannya untuk mu…” gumamnya dalam hati.
Setibanya dirumah ibunya menemukan
Naya sudah tertidur pulas dengan mengenggam sebuah buku ditangannya.ibu Naya
mengambil buku itu dan membacanya.
“aku benar –
benar menginginkan tas berwarna ungu di toko itu supaya aku bisa memakainya
ketika perjalanan kelulusan besok.semua teman – teman ku pasti mengenakan
barang – barang yang baru nanti.tapi ibu mengatakan dia tidak punya
uang,bagaimana aku bisa membelinya??”
Ibu Naya menangis,ternyata buku itu
adalah buku diary Naya.ia menatap wajah anak nya itu dan mengusap rambutnya.
“ibu pasti
membelikannya untuk mu,mungkin tidak akan Naya pakai untuk besok.tapi ibu
berjanji ketika Naya pulang dari liburan mu besok,tas itu sudah ada dikamar
mu,ibu janji.”
Tulis ibu Naya dibawah tulisan Naya
dibuku itu.
“ibuuuuuu….
Benar kah ibu akan membelikannya??!!” teriak Naya sambil berlari dari
kamarnya menuju ibu nya yang sedang memasakkan bekal Naya untuk liburan.
Ibu Naya menggangguk sambil tersenyum
“Benar kah??
Benarkah?? Benarkah??” Naya mengguncang tubuh ibunya.
Ibu Naya kembali mengangguk dan
memberi isyarat kepada Naya untuk segera bersiap –siap.Naya lalu berlari kearah
kamarnya.
Beberapa
menit kemudian Naya kembali berlari kearah ibunya di dapur.
“ibuuuuu….”
ibu
Naya menoleh,Naya menunjuk kearah kaki ibunya.
“ibu,itu celana
ku kenapa dipakai???”
rengek Naya.
Ibu
Nya melihat celana yang ia kenakan,lalu mengatupkan kedua tangannya.
“maafkan ibu…”
“Nyamm…Nyamm…” Naya mengunyah nasi gulung
yang disuapkan ibunya sambil terus melihat kearah ponselnya.
“ibu cepatlah,bis
nya akan lewat sebentar lagi.aku nanti tertinggal..” Naya berlari
sambil menggenggam tangan ibunya menuju ke stasiun bis.
“Hey…. Tunggu
aku..”
teriak Naya pada bis sekolahnya.Naya lalu melepaskan genggaman pada tangan
ibunya,berlari sebentar lalu berbalik kearah ibunya.
“ibu ingat janji
mu yaaaa….”
Seru Naya sambil mengajukan jari kelingkingnya.
Ibu Naya mengangguk sambil mengajukan
dua jempolnya kearah Naya.
“Jangan lupa
untuk selalu tersenyum…” teriak Naya lagi sambil meletakkan jarinya di kedua
sisi bibirnya.
Ibu Naya tersenyum sambil menirukan
gerakan yang dilakukan Naya dan melihat Naya meloncat ke dalam bis.ibu Naya
melambaikan tangannya kearah bis yang membawa putri kesayangannya itu.
Ia kembali pulang kerumah dan bersiap
– siap untuk pergi bekerja.ia bekerja dengan semangat demi tas untuk Naya.
Sepulang kerja,dengan uang yang
diperolehnya ibu Naya masuk kedalam toko tas untuk membeli tas yang diinginkan
Naya.
Kreeeettt
“Selamat
datang,ada yang bisa kami bantu??”
Ibu Naya masuk kedalam toko dan
disambut ramah oleh seorang pelayan toko.
Ibu Naya meberikan isyarat dengan
menunjuk tas yang dipajang didepan toko.pelayan itu mengambilkannya dan
menunjukkannya pada ibu Naya.
Dia mengangguk.
Sambil
menunggu sang pelayan toko membungkuskan tas itu,ibu Naya mengeluarkan beberapa
lembar uang kertas dari amplop gajinya dan hanya menyisakan selembar saja
didalamnya.
“ini nyonya..” sang pelayan
menyerahkan bungkusan itu kepada ibu Naya.ia pun langsung menyodorkan beberapa lembar uang kertas yang sejak tadi
digenggamnya.ibu Naya tersenyum untuk mewakili rasa terimakasihnya kepada
pelayan itu dan segera berjalan keluar.
Sepanjang jalan ibu Naya terus
tersenyum sambil memeluk bungkusan yang berisi tas yang sangat diinginkan
Naya.ia tengah membayangkan bagaimana wajah terkejut Naya ketika menemukan tas
ini diatas tempat tidurnya.malam itu menjadi malam paling membahagiakan bagi
ibu Naya.
Matahari telah meninggi saat ibu Naya
tengah menyapu lantai.rumah terasa begitu sepi tanpa Naya.ia berjalan kearah
kamar Naya yang sudah diarapikannya dan melihat kearah tas yang ia letakkan di
atas tempat tidur Naya.ia tak henti – hentinya tersenyum dan kembali
melanjutkan pekerjaannya.
Sepanjang hari senyum ibu Naya tak
pernah lepas dari wajahnya.ia selalu mengingat perkataan Naya sebelum dia
pergi.hari ini
Hari itu,pekerjaan Ibu Naya selesai
lebih cepat karena restoran sedang sepi.ia pun pulang kerumah lebih awal.namun
mengingat dirumah ia hanya sendirian,ibu Naya mencoba berjalan lebih lambat
dari biasanya,menghabiskan waktu lebih lama di perjalanan.langit terlihat
mendung dan angin mulai menderu kencang pertanda hujan akan segera turun,ibu
Naya akhirnya mempercepat langkahnya.
Namun ternyata hujan lebih dulu turun
sebelum ibu Naya sampai dirumah.ia segera berlari mencari tempat
berteduh.setelah agak basah ibu Naya akhirnya sampai di sebuah terminal bis dan
duduk disana,ia melewatkan beberapa mobil bis yang berhenti untuk menghemat
uang,uang yang ia miliki sekarang tidak akan cukup jika ia naik bis.bisa – bisa
aka nada hari dimana Naya tidak makan.pikiran – pikiran seperti itu membuat ibu
Naya harus rela pulang jalan kaki.berlarian ditengah hujan yang mengguyur
deras.
Bruukk…
Ibu Naya terjatuh kedalam sebuah
saluran air yang sedang mengalir deras.karena hujan membuat mata nya tidak bisa
melihat jalan dengan baik dan tidak melihat tulisan saluran sedang dalam
perbaikan yang tertera di sebuah papan.saluran air yang terbuka lebar itu menyeret
ibu Naya jauh ke dalam lorong yang gelap dan bau,ia berusaha berteriak,namun
apa daya tak ada yang akan mendengarnya.
“ibuuuuuuuu…..” teriak Naya
dari depan pintu,tidak seperti biasanya rumahnya terkunci sehingga ia harus
membuka dengan kunci cadangan yang dibawanya.
“ibuuuu…..
sedang bermain petak umpetkah??” teriak Naya lagi seraya mencari ibunya
kesetiap ruangan.
“aaaaaaaaaaaa……….” Naya berteriak
histeris
“tasnya bagus
bangett!!”
Naya berlari kearah tempat tidurnya dan memeluk tas yang sangat dinginkannya
itu.masih dengan memeluk tas nya Naya kembali mengitari rumah sambil tersenyum
ceria.
Setelah menghabiskan waktu lama, wajah
Naya berubah menjadi cemas.ia terus meneriaki nama ibunya dengan suara parau.
“astaga
Naya,darimana saja kamu??”
“bibi ai,ibu mana??” tanya Naya pada
seorang perempuan yang adalah tetangga nya itu.
“ibu mu sudah
meninggal Nay,bibi sudah berulang kali menghubungi mu tapi tidak bisa.” Ujarnya menahan
air mata.
“ke.. kenapa
bisa???!!!”
pekik Naya
Bibi ai menceritakan dengan jelas
semua kronolgis kejadiaan yang membuat ibu Naya meninggal.Naya jatuh terduduk,lututnya
goyah.seluruh tubuhnya bergetar.jantungnya berdegup kencang.pikiran nya
kacau.sedetik kemudian Naya berteriak histeris.ia menangis sekuat –
kuatnya.memeluk erat tas di tangannya.hadiah terakhir dari ibunya tercinta.
Hari mulai mendung,awan gelap
mengitari langit dan perlahan – lahan menutupi sebagian cahaya yang masih
terlihat.Naya berjalan tertatih – tatih.berusaha menahan getaran tubuhnya
mendekati gundukan tanah yang masih baru di area pekuburan.
Tak akan ada lagi yang mengomeli
nya,tak akan ada lagi orang yang akan selalu menuruti apa yang ia inginkan,taka
da lagi yang memasakkan makanan untuknya,menggosokkan baju sekolahnya,bahkan
tersenyum kearah nya,benar – benar suah berakhir.
“ibu,maafkan
aku”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar