Jumat, 01 Januari 2016

My Mom



My Mom

 Author by DeanEldora,dont copy wihout full credits.i believe you....


“hoaaahhh…”
          Naya terbangun dari tidurnya dan menguap lebar.ia lalu melakukan olahraga ringan sebelum akhirnya turun dari tempat tidurnya.ia berjalan kearah kamar mandi seraya melihat kesebuah jam yang tergantung didindingnya.
“Wah,hampir telat!!!” pekik naya sambil berlari ke kamar mandi.

          Pagi itu menjadi pagi yang menegangkan bagi Naya karena hari itu ia akan kesekolah untuk melihat pengumuman kelulusan SMA nya.

“aaaahhh… ibuuu…” Naya berlari ke kamar ibunya.
“wah kenapa??” tanya ibu Naya yang sedang menyetrika baju dengan bahasa isyarat.ibu Naya seorang tunanetra sehingga ia berbicara dengan orang lain menggunakan bahasa isyarat.
“ibuuuu… kenapa baju ku baru disetrika?! Aduh,ibu juga harus siap – siap.ibu harus kesekolah hari ini untuk kelulusan ku.” Omel Naya seraya mengenakan baju seragamnya.
“astaga ibu lupa..” ibu Naya membuat isyarat menepuk keningnya dan segera bersiap – siap.

“cepat ibu,atau kita akan ketinggalan bis..” teriak Naya yang sudah berlari meninggalkan ibunya yang sedang mengunsi pintu.

          Jantung Naya berdebar ketika menerobos kerumunan teman – temannya untuk melihat pengumuman kelulusan yang ditempalkan pihak sekolah di dinding mading.dengan menggenggam tangan ibu nya Naya melihat satu persatu nama di kertas yang menuliskan nama – nama siswa yang lulus.sementara sesekali mata Naya juga melihat kearah kertas yang menuliskan nama siswa yang tidak lulus,berharap namanya tidak ada disana.

“yeeeeeeeeeeeeee………”

          Naya bersorak dan memeluk ibunya yang juga sangat senang.meski nama Naya berada diurutan ke 329 dari 334 siswa,ibu Naya sangat bahagia melihat nama Naya berada diantara siswa yang lulus.
          Sebagai anak tunggal,Naya adalah anak yang sangat manja.ayah Naya yang sudah meninggal sejak Naya berumur 10 tahun membuat ibu Naya harus bekerja sangat keras untuk mengabulkan permintaan Naya.ia pun sangat senang akhirnya Naya lulus dari sekolahnya yang sangat Mahal itu meski dengan nilai yang pas – pasan.
          Ibu Naya tersenyum kearah Naya yang berjalan sambil meloncat – loncat kegirangan.baginya keceriaan Naya adalah satu – satunya alasan nya bertahan hidup selama ini.jika tidak ada Naya entah dari mana ia akan merasakan bagaimana rasanya kebahagiaan itu.

“waaahhh…” Naya menempelkan wajahnya kesebuah kaca toko yang berada dipinggir jalan ketika mereka dalam perjalanan pulang kerumah.
Ibu Naya menghampirinya dan memegang pundak Naya.
“ibu,aku mau yang iniii…” tunjuk Naya pada sebuah tas ransel berwarna ungu yang terpajang didalam toko.
Ibu Naya melihat harga tas yang tergantung di tas tersebut,ia lalu menggeleng lemah kearah Naya.
“ibu tidak punya uang sebanyak itu..” ibu Naya membuat isyarat dengan tangannya.
“tapi buu…” Naya merengek manja
          Ibu Naya menyeret Naya menjauh dari toko itu dan membawa pulang.sepanjang jalan Naya cemberut saja dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun.ibu Naya tampak merasa sangat bersalah.
          Sesampainya dirumah Naya langsung masuk kekamar dan tidak berbicara sedikit pun pada ibunya.

“Naya,ibu pergi kerja dulu ya..” ibu Naya membuat isyarat kepada Naya yang sedang tiduran di tempat tidurnya.
          Naya hanya mengangguk cepat tanpa melihat kearah ibunya.
Ibu Naya tersenyum dan setelah mengacak rambut Naya ia pun pergi.

          Ibu Naya bekerja sebagai pencuci piring disebuah restoran jepang didekat rumahnya.tidak bisa berbicara membuatnya kesulitan mencari pekerjaan sehingga hanya sebagai pencuci piring sajalah yang bisa ia dapatkan.
Hari ini restoran terlihat sangat ramai sehingga ibu Naya harus bekerja sangat cepat atau akan ada pelanggan yang tidak mendapatkan piring.beberapa tetes bulir keringat menetes dari sela rambutnya yang kini kian memutih.ia menyeka keringatnya dengan tangan yang dipenuhi oleh sabun,ia bekerja sangat keras.ia ingin sekali membelikan Naya tas yang waktu itu dilihat Naya.
Malam mulai menjelang dan restoran pun berangsur tutup.ibu Naya berjalan perlahan kearah rumahnya sambil memijat bahunya.ia berhenti berjalan ketika ia melihat kesebuah toko dimana Tas yang Naya inginkan masih terpajang disana.
“ibu berjanji pasti ibu akan membelikannya untuk mu…” gumamnya dalam hati.

          Setibanya dirumah ibunya menemukan Naya sudah tertidur pulas dengan mengenggam sebuah buku ditangannya.ibu Naya mengambil buku itu dan membacanya.
“aku benar – benar menginginkan tas berwarna ungu di toko itu supaya aku bisa memakainya ketika perjalanan kelulusan besok.semua teman – teman ku pasti mengenakan barang – barang yang baru nanti.tapi ibu mengatakan dia tidak punya uang,bagaimana aku bisa membelinya??”
          Ibu Naya menangis,ternyata buku itu adalah buku diary Naya.ia menatap wajah anak nya itu dan mengusap rambutnya.
“ibu pasti membelikannya untuk mu,mungkin tidak akan Naya pakai untuk besok.tapi ibu berjanji ketika Naya pulang dari liburan mu besok,tas itu sudah ada dikamar mu,ibu janji.”
          Tulis ibu Naya dibawah tulisan Naya dibuku itu.

“ibuuuuuu…. Benar kah ibu akan membelikannya??!!” teriak Naya sambil berlari dari kamarnya menuju ibu nya yang sedang memasakkan bekal Naya untuk liburan.
          Ibu Naya menggangguk sambil tersenyum
“Benar kah?? Benarkah?? Benarkah??” Naya mengguncang tubuh ibunya.
          Ibu Naya kembali mengangguk dan memberi isyarat kepada Naya untuk segera bersiap –siap.Naya lalu berlari kearah kamarnya.
Beberapa menit kemudian Naya kembali berlari kearah ibunya di dapur.
ibuuuuu….”
          ibu Naya menoleh,Naya menunjuk kearah kaki ibunya.
“ibu,itu celana ku kenapa dipakai???” rengek Naya.
Ibu Nya melihat celana yang ia kenakan,lalu mengatupkan kedua tangannya.
“maafkan ibu…”

Nyamm…Nyamm…” Naya mengunyah nasi gulung yang disuapkan ibunya sambil terus melihat kearah ponselnya.
“ibu cepatlah,bis nya akan lewat sebentar lagi.aku nanti tertinggal..” Naya berlari sambil menggenggam tangan ibunya menuju ke stasiun bis.
“Hey…. Tunggu aku..” teriak Naya pada bis sekolahnya.Naya lalu melepaskan genggaman pada tangan ibunya,berlari sebentar lalu berbalik kearah ibunya.

“ibu ingat janji mu yaaaa….” Seru Naya sambil mengajukan jari kelingkingnya.
          Ibu Naya mengangguk sambil mengajukan dua jempolnya kearah Naya.
“Jangan lupa untuk selalu tersenyum…” teriak Naya lagi sambil meletakkan jarinya di kedua sisi bibirnya.
          Ibu Naya tersenyum sambil menirukan gerakan yang dilakukan Naya dan melihat Naya meloncat ke dalam bis.ibu Naya melambaikan tangannya kearah bis yang membawa putri kesayangannya itu.
          Ia kembali pulang kerumah dan bersiap – siap untuk pergi bekerja.ia bekerja dengan semangat demi tas untuk Naya.
          Sepulang kerja,dengan uang yang diperolehnya ibu Naya masuk kedalam toko tas untuk membeli tas yang diinginkan Naya.

Kreeeettt

“Selamat datang,ada yang bisa kami bantu??”
          Ibu Naya masuk kedalam toko dan disambut ramah oleh seorang pelayan toko.
          Ibu Naya meberikan isyarat dengan menunjuk tas yang dipajang didepan toko.pelayan itu mengambilkannya dan menunjukkannya pada ibu Naya.
          Dia mengangguk.
Sambil menunggu sang pelayan toko membungkuskan tas itu,ibu Naya mengeluarkan beberapa lembar uang kertas dari amplop gajinya dan hanya menyisakan selembar saja didalamnya.
“ini nyonya..” sang pelayan menyerahkan bungkusan itu kepada ibu Naya.ia pun langsung menyodorkan  beberapa lembar uang kertas yang sejak tadi digenggamnya.ibu Naya tersenyum untuk mewakili rasa terimakasihnya kepada pelayan itu dan segera berjalan keluar.
          Sepanjang jalan ibu Naya terus tersenyum sambil memeluk bungkusan yang berisi tas yang sangat diinginkan Naya.ia tengah membayangkan bagaimana wajah terkejut Naya ketika menemukan tas ini diatas tempat tidurnya.malam itu menjadi malam paling membahagiakan bagi ibu Naya.

          Matahari telah meninggi saat ibu Naya tengah menyapu lantai.rumah terasa begitu sepi tanpa Naya.ia berjalan kearah kamar Naya yang sudah diarapikannya dan melihat kearah tas yang ia letakkan di atas tempat tidur Naya.ia tak henti – hentinya tersenyum dan kembali melanjutkan pekerjaannya.

          Sepanjang hari senyum ibu Naya tak pernah lepas dari wajahnya.ia selalu mengingat perkataan Naya sebelum dia pergi.hari ini
          Hari itu,pekerjaan Ibu Naya selesai lebih cepat karena restoran sedang sepi.ia pun pulang kerumah lebih awal.namun mengingat dirumah ia hanya sendirian,ibu Naya mencoba berjalan lebih lambat dari biasanya,menghabiskan waktu lebih lama di perjalanan.langit terlihat mendung dan angin mulai menderu kencang pertanda hujan akan segera turun,ibu Naya akhirnya mempercepat langkahnya.
          Namun ternyata hujan lebih dulu turun sebelum ibu Naya sampai dirumah.ia segera berlari mencari tempat berteduh.setelah agak basah ibu Naya akhirnya sampai di sebuah terminal bis dan duduk disana,ia melewatkan beberapa mobil bis yang berhenti untuk menghemat uang,uang yang ia miliki sekarang tidak akan cukup jika ia naik bis.bisa – bisa aka nada hari dimana Naya tidak makan.pikiran – pikiran seperti itu membuat ibu Naya harus rela pulang jalan kaki.berlarian ditengah hujan yang mengguyur deras.

Bruukk…

          Ibu Naya terjatuh kedalam sebuah saluran air yang sedang mengalir deras.karena hujan membuat mata nya tidak bisa melihat jalan dengan baik dan tidak melihat tulisan saluran sedang dalam perbaikan yang tertera di sebuah papan.saluran air yang terbuka lebar itu menyeret ibu Naya jauh ke dalam lorong yang gelap dan bau,ia berusaha berteriak,namun apa daya tak ada yang akan mendengarnya.

“ibuuuuuuuu…..” teriak Naya dari depan pintu,tidak seperti biasanya rumahnya terkunci sehingga ia harus membuka dengan kunci cadangan yang dibawanya.
“ibuuuu….. sedang bermain petak umpetkah??” teriak Naya lagi seraya mencari ibunya kesetiap ruangan.
“aaaaaaaaaaaa……….” Naya berteriak histeris
“tasnya bagus bangett!!” Naya berlari kearah tempat tidurnya dan memeluk tas yang sangat dinginkannya itu.masih dengan memeluk tas nya Naya kembali mengitari rumah sambil tersenyum ceria.
          Setelah menghabiskan waktu lama, wajah Naya berubah menjadi cemas.ia terus meneriaki nama ibunya dengan suara parau.
“astaga Naya,darimana saja kamu??”
bibi ai,ibu mana??” tanya Naya pada seorang perempuan yang adalah tetangga nya itu.
“ibu mu sudah meninggal Nay,bibi sudah berulang kali menghubungi mu tapi tidak bisa.” Ujarnya menahan air mata.
“ke.. kenapa bisa???!!!” pekik Naya
          Bibi ai menceritakan dengan jelas semua kronolgis kejadiaan yang membuat ibu Naya meninggal.Naya jatuh terduduk,lututnya goyah.seluruh tubuhnya bergetar.jantungnya berdegup kencang.pikiran nya kacau.sedetik kemudian Naya berteriak histeris.ia menangis sekuat – kuatnya.memeluk erat tas di tangannya.hadiah terakhir dari ibunya tercinta.
          Hari mulai mendung,awan gelap mengitari langit dan perlahan – lahan menutupi sebagian cahaya yang masih terlihat.Naya berjalan tertatih – tatih.berusaha menahan getaran tubuhnya mendekati gundukan tanah yang masih baru di area pekuburan.
          Tak akan ada lagi yang mengomeli nya,tak akan ada lagi orang yang akan selalu menuruti apa yang ia inginkan,taka da lagi yang memasakkan makanan untuknya,menggosokkan baju sekolahnya,bahkan tersenyum kearah nya,benar – benar suah berakhir.
“ibu,maafkan aku”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar